Kami sudah tidak dpat lagi mengkoordinir kerinduan ini. Terserak kemana-mana, melumuri setiap yang bernama sejoli. Biarkan… biarkan kocar-kacir sekalian, agar semua tahu betapa bersamudra-samudra cinta kita.
Aku tak mampu mewadahinya. Nafasku nafas cinta, pandangku pandang cinta, gerakku gerak cinta, ruhku cinta, jazadku cinta, detakku cinta… cinta… segalanya cinta…
Coba tadahkan tanganmu, betapa kental kerinduan ini. Coba celupkan jarimu ke dalamnya, kamu tak kan lagi bisa mencabutnya, melekat erat betapa kerasnya rinduku.
Kami berbantal cinta, yang tak lagi tahu arah. Kami buta…
…..
…
.
…
…..
Apa yang aku dapat setelah kucicipi sedikit nikmat yang Dia suguhkan ? Entahlah, tapi sekarang kurasakan ketenangan yang kemaren tak dapat kutiti… entahlah…. Inikah obat kobar rinduku, atau bahkan minyak yang tersiramkan ke api itu ?
Salahku menyimpan tungku, salahku menyimpan bokor yang tiap malam jum’at, apalagi jum’at legi, selalu mengepukan asap, isyarat kepanasan wadahnya.
Kuhancurkan tungku itu, atau bokor itu kutendang keluar ? sudak kucoba, berkali malah, tapi patah tumbuh hilang berganti… dengan api yang lebih kobar, dan nyala merah saga, dengan bara beribu derajatnya.
Semoga Tuhan memberiku pilihan tepat, tuk jadikan setitik kecil saja ketenangan sudi menyanding hatiku. amin.
-
Cari itu!
-
Entri Terkini
-
Tautan