Biarkan adelwais coklat muda ini terserak dihempas angin senja, atau dihantam badai sahara, tapi yang disini… di dada ini, jangankan prahara jingga, bahkan malakul mautpun tak mampu merogoh bilik terdalam hatiku, tempat menyimpan segala rasa dan memori kita…
Anganku bahkan engkau jadikan realita
Illusikupun engkau bentuk jadi kauniyah
Mana lautmu, biar kuisi dengan tujuh samudra asmara bara
Mana suhufmu, jua kan kuoreti dengan pena dari seluruh pepohon buana
Mana pialamu, tapi tak usahlah kutuangi anggur merah, karena kita tlah terhuyung… mabuk dalam arena dewa amor yang menari di sekeliling kita
Yang… bersama-sama kita cicipi, berdua … slamanya…slamanya…
…..
…
.
…
…..
Tapi…
Tapi ini malam terakhir kuhirupi udara manis kota kekasihku, kota tempat dia terbaring, terhimpit bara bertonasi ribu, cinta yang tak pernah kutahu titik sentralnya, karena semuanya sentral, dan aku terlumasi begitu kental, tak peduli aku terkapar, atau tercabik lebur dalam debu di sepatunya…
Dialah gadis yang semalam merelakan detiknya menemaniku mencicipi keindahan firdausi sejatinya, merelakan desahnya diusung angin tuk menemani dinginku…