ENGKAU, AKU INGIN …

Karya : Ainil Fitri

 

Engkau,

Aku ingin bermain-main dulu di halaman-Mu

Atau sekedar mengintip taman-Mu dari jauh

Sebelum kukhusyu’ di karpet-Mu

Mengekang konsentrasi dalam untai renungku

 

Engkau,

Aku ingin merasakan sejuk tatapan-Mu

Atau hambar sekalipun,

Asal tak selalu kulihat merahnya bola mata-Mu

Tidak…,

Mata-Mu tak pernah menyala, berkobar,

Karena Engkau begitu Penyayang

 

Engkau,

Aku ingin sekedar tersenyum

Di antara rona ikhlas-Mu

Hingga aku tak selalu lari menjauh,

Dan gemeretak di antara gigilku

 

Engkau,

Suatu saat aku ingin menggandeng tangan-Mu,

Mengajak-Mu menyusuri kebun Kita,

Bersama-sama memetik buah-buah

Yang Kita tanam dan pupuk bersama

 

Engkau,

Aku ingin …

Sukorejo, seiring adzan maghrib

12 02 1999

PENITIAN BISMILLAH

Karya : Ainil Fitri

 

Aku mulai menyapa-Mu pada Ba’ Bismillah

Dengan kata rayu pasti, “Anta Maksuudi”

Aduh Gusti … Gusti,

Ihdlarku kemana sih, kemana ?!

Kukibarkan setengah tiang benderaku atas kegagalan ini

 

Aku menyapa Sin-Mu,

Berbekal “Ridlaaka Mathluubi”

Aku bertanya, sempatkah ia menyimpan khusyu’ku ?!

Gusti …

Jubah hitam sudah kupakai untuk jawabannya

 

Kujejak Mim-Mu

Kuurai ia habis-habisan

Kupreteli unsur-unsurnya

Kuobrak-abrik, hanya untuk menyekap Engkau

Aku dimaki karena pulangku tidak membawa oleh-oleh

 

Sisa-sisa asa,

Kutabur pada lafal Jalla Jalaaluh

Yang kudapat malah wihdah

Tak tersisa lagi Ba’, Sin dan Mim

Yang ada hanya Aku-Mu dan Engkau-Ku

 

Sukorejo, mencoba larut pada-Nya

pada awal 2000

SYAUQY PADA MUHAMMAD

Karya : Ainil ‘KIKO’ Fitri

 

Rasuuul … Rasuuul … Rasuuul … Rasuulullah …

Alaikas Shalaah … Alaikas Salaam …

Muhammad …

Ketika puisi sufistik ini menetes dari dedaun-dedaun basah

Aku menjerangi air mata merahku yang tertumpah

Karena kental rinduku pada engkau tergolek pasrah

 

Muhammad yaaa Muhammad

Anta Syamsi Anta Badri

Dari sini aku mulai langkahku menjenguk rembulan

Barangkali …

Barangkali dia sempat menyimpan arsip wajah agungmu

Namun nyatanya yang kuperoleh hanyalah kesia-siaan belaka

Lalu kemana …

Kemana …

Kemana hendak kucari engkau ya Nur Fauqo Nuuri,

Kemana …

Sudah kuobrak abrik masyariqil ardli hingga magharibiha

Sudah kutiti Masjidil Haram hatta Masjidil Aqsha

Tapi engkau tak meninggalkan setoreh kecil saja jejak luhurmu

Kembali yang kutemui hanyalah fatamorgana

 

Muhammad yaaa Muhammad

Anta Iksir wa Ghali …

Aku menangisi nasibku,

Tanpa engkau, kemana hendak kuarak dun-yawi wa ukhrawi ?!

Aku meratapi keadaanku,

Siapa lagi yang hendak menerangi jalan ruhii wa jasadii ?!

Siapa … Siapa …

Siapa Muhammad … Siapa … ?!

 

Ya … Syauqi … Syauqi … Syauqi …

Hanya pada engkau Muhammad, Syauqi kutumpuk

Karena engkau Mishbah Suduri …

 

Sukorejo, saat kerinduan pada Muhammad menumpuk

di Maulidur Rasul 2000

PUISI BUMI TENTANG SYUHADA’

Karya : Ainil ‘KIKO’ Fitri

 

Mentari rebah di pangkuanku

Kala pedang tajam itu jatuh

Dan roboh menimpa kulitku

Aku hanya bisa mengeluh

“Bangkitlah Mujahidku…”

 

Mentari membara di telapakku

Ketika keras terdengar teriakan musuh

“Kemana prajurit Muhammad itu …!!!”

Mujahidku menjawab selantang gemuruh

“Aku disini menyongsong anak panahmu !!!”

 

Mentari menyala merah di ubun-ubunku

Saat dua pasang mata saling beradu

Dan dua pucuk senjata senyap membisu

Aku menjerit sekeras sang waktu

Hancurkan mereka …

Hancurkan mereka wahai Mujahidku !!!

 

Mentari meredup di senja kelabu

Bersama darah Syuhada’ yang mulai membeku

Puspa kambojapun tertunduk layu

Mempersembahkan tangisan pilu

“T’lah gugur pahlawanku …”

 

Saat itu aku bersumpah …

Atas nama sebuah kemerdekaan

Walau harus tertebus selaksa arwah Mujahid Islam

Atau bergallon-gallon darah syuhada’ kebajikan

Kita harus berjuang …!!!

Kita harus melawan …!!!

Sampai titik darah yang penghabisan

 

Kini setelah 15 abad usia Dinul Islam

Mentariku kembali padam

Saat para Kyai sibuk dengan roti kekuasaan

Dan para Ustadz saling rebut kursi dewan

Kemana … Kemana …

Kemana kejujuran, kearifan dan keluhuran

Yang selama ini mereka janjikan ?!

Kemana … Kemana … ?!

 

Ah … Mungkin sudah waktunya

Hari ini kukuruk kembali makam para Syuhada’ kebajikan

Dan kuajak lagi mereka berjuang

Demi Dinul Islam Pujaan

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!